Antara Niqab, Kelakuan dan Hati Yang Saling Memaafkan


Niqabis


Dua hari ini timeline saya sedang ramai dengan video promosi film yang diangkat dari sebuah novel fenomenal. Novel dan film itu memang selalu sukses di dunianya.

Dalam video promosi film itu, terdapat bagian di mana ada empat orang wanita berabaya hitam lengkap dengan niqab yang berdiri di panggung. Lalu para penonton diminta menebak, wanita mana yang berperan dalam film itu. Dan pada bagian terakhir dua wanita berniqab itu membuka niqab yang mereka pakai.

Bisa diduga bagaimana reaksi netizen akan viralnya video tersebut?

Sebagai seorang wanita bercadar, yup..., saya shock. Pasti teman-teman yang lain pun seperti itu juga.

Cadar atau niqab, memanglah hanya selembar kain yang digunakan untuk menutup wajah. Tapi percayalah, ngga gampang untuk memakainya. Apalagi secara istiqomah. Berat, Buuuu.... percaya deh.

Untuk masalah cadar memang ada perbedaan pendapat, ada yang bilang wajib dan ada juga yang bilang sunnah. Semua pun memiliki dalil masing-masing. Jadi baca ini ngga usah pakai debat yah. Kita piss piss ajah bahasnya.

Hukum memakai cadar dalam pandangan 4 mahzab

Seperti kasus akhwat bercadar pajang foto di medsos. Sampai sekarang juga masih sering bikin ribut kan yah? Ada yang beralasan dakwah agar cadar ngga dianggap aneh dan bisa diterima oleh masyarakat. Tapi ada juga yang keukeuh ikut pendapat ngga boleh pajang foto, sebenernya ini mah buat semuanya yah, bukan cuma akhwat bercadar aja yang ngga boleh pajang foto kan?

Baidewei, alhamdulillaah di Indonesia ngga terlalu sulit memakai cadar. Walau pun yah kadang masih ada hal-hal yang ngga mendukung buat perempuan bercadar. Contoh paling gampang yang sering saya temui adalah masjid yang tempat wudhunya masih gabung antara laki-laki dan perempuan dan juga hijab pemisah tempat sholatnya hanya sebatas dada jadinya masih keliatan tuh sama laki-laki kalau kita lagi sholat. Jadi saya harus mencari masjid yang benar-benar bersahabat dengan niqabis.

Balik lagi ke soal video tadi. Saya sebagai wanita yang memakai cadar saat keluar rumah, untuk sholat saja saya pilih-pilih agar aurat saya tetap terjaga agar ngga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram. Lalu membuka cadar di atas panggung? 

Ya memang menurut klarifikasi yang telah dibuat oleh MC acara itu, bahwa wanita-wanita berniqab itu diperan oleh Usher atau SPG yang pada dasarnya ngga bercadar bahkan ngga berjilbab. Tapi bukan itu kan poinnya? Poin yang ditangkap dari acara itu adalah, wanita bercadar bisa dengan mudah membuka cadarnya di depan umum.

Perlu diketahui yah, bagi wanita yang sudah bercadar atau berniqab, kebanyakan dari mereka berpegang pada pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat. Jika para hijaber berpegang pada hijab lebarnya ngga akan pernah dibuka di hadapan laki-laki yang bukan mahram, maka begitu pun kami. Ngga akan memperlihatkan wajah pada laki-laki yang bukan mahram. Beda dengan wanita yang menganggap bercadar itu sunnah. Saya pernah baca ada istilah wanita setengah bercadar. Yang artinya, ada saatnya dia bercadar dan ada saatnya juga dia ngga pakai cadar. 

Jadi ngga masalah dong buka cadar di depan umum? Kan ada yang bilang hukumnya sunnah juga, jadi kenapa harus marah? 
Itu kan kalau yang berpendapat sunnah. Kalau yang berpendapat hukumnya wajib? Ya jelas marah lah. 

Tapi ya balik lagi ke masalah pemahaman. Seperti yang ditulis aktris pemeran utama di film itu, dalam klarifikasi di IG nya, Mba Cantik itu bilang, kalau memang kurang pemahaman tentang hukum niqab atau cadar.

Semoga para muslimah yang berdakwah lewat media hiburan bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk mempelajari hukum-hukum agama yang dianutnya. Ngga cuma ikut skrip, ngga cuma nurut sama EO atau pun PH. Bahkan kalau bisa, kalau melihat ada yang ngga sesuai dengan kaidah agama, ya diluruskan. Supaya ngga terlanjur melukai perasaan umat.

Soalnya kejadian kaya gini ngga cuma sekali, hukum islam di eksploitasi untuk menarik penonton, menaikan rating kalau ada masalah ya cuma artisnya yang jadi bantalan. 

Tapi ya sudahlah. Sebagai akhwat dan juga sesama muslim, jika ada yang meminta maaf maka wajib hukumnya bagi kita untuk memaafkan. Jangan larut dalam luka. Jangan lanjut menghujat. Jangan terus-terusan membalas dengan lebih menyakiti. 

Jadi sebaiknya maafkanlah. Jadikan kejadian ini sebagai ujian kenaikan iman, buat semuanya. Terutama buat diri kita sendiri. Bagaimana caranya agar niqab ngga kehilangan maknanya. Ini PR buat kita semua para muslimah.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Antara Niqab, Kelakuan dan Hati Yang Saling Memaafkan"

Post a Comment